Nabi Yehezkiel diutus Allah kepada bangsa Israel, yang memberontak dank eras kepala, maka dalam mengutus itu pun Tuhan sudah memperingatkan nabi Yehezkiel, agar ia tetap menyampaikan firman-Nya meskipun mereka tidak mendengarkan (Bacaan Pertama, Yeh.2:2-5). Rasul Paulus pun akhirnya menerima dengan iklas, bahkan bangga, kekecewaan dan sakit hati karena apa yang diajarkannya ditolak, karena hal itu menyebabkan kuasa Allah lebih tampak dalam kelemahannya itu (Bacaan Kedua, 2Kor.12:7-10). Sebab kristus tetap terus berkarya, meskipun Ia, yang mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa, ditolak bukan hanya oleh penduduk desa Nasaret, tetapi juga oleh para pimpinan dan tua-tua bangsa Yahudi. (Bacaan Injil, Mrk.6:1-6)
Mewartakan Kabar Gembira adalah menyampaikan, menyatakan Firman Allah. Dan Firman itu sendiri yang berkarya menyelamatkan manusia. Didengar atau tidak itu bukan masalah, karena Firman itu telah berada pada mereka dan akan terus berkarya dari dalam hati mereka. Jangan kita mengutuk orang yang menolak dan tidak mau mendengar. Karena kalau kita memaafkan mereka, Kristus bukan hanya akan mengampuni mereka, tetapi terutama juga mengampuni kita yang lemah karena dosa ini.
Pesan yang disampaikan dalam perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-14 ini mengingatkan kita bahwa mewartakan Kristus, mewartakan penyelamatan Allah, adalah jati diri manusia, karena manusia adalah gambar Allah yang berdiri sebagai pribadi. Artinya dapat terjadi manusia mau mewartakan, atau tidak mau mewartakan. Tidak mau mewartakan berarti tidak mewujudkan diri sebagai gambar Allah, sebagai manusia. Seperti halnya Kristus sendiri, Sang Sabda yang menjadi Manusia. “Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku”. (Yoh.18:37c). Kristus adalah Sang Manusia (lh. Yoh.19:5). Ia adalah Gambar Allah yang sempurna. Maka Kristus tidak pernah berhenti mewartakan. “Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar”.
Demikian pun kita manusia, sekalipun gambar Allah yang tidak sempurna, namun harus pula memberi kesaksian akan kebenaran, bahwa Kristus adalah Allah Putera yang datang untuk menyelamatkan manusia (bdk. 1Kor.9:18).
Akan tetapi karena manusia terbelenggu dosa, sehingga juga terbelenggu oleh keduniawian yang memberi kesenangan dan kenikmatan, mereka dapat menolak pewartaan kita itu. Bahkan biasanya menolak lebih banyak daripada yang menerima, atau yang sudah menerima pun akhirnya berkhianat. “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku ….. Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Begitulah firman Tuhan Allah. Dan baik mereka mendengarkan atau tidak – sebab mereka adalah kaum pemberontak – tetapi mereka akan tahu bahwa ada seorang nabi di tengah mereka”.
Melalui para nabi pada zaman PL, sekarang melalui Gereja dan juga tetap melalui segala ciptaan, Allah sendiri berkarya, menuntun manusia untuk menyelamatkannya. Manusia hanya digunakan allah untuk mewartakan firman Allah, memberi kesaksian, sedang yang berkarya menyelamatkan adalah Allah sendiri. Kalau kita taat dan rela digunakan Allah menyelamatkan sesama kita, berarti kita sendiri diselamatkan. Karena itu orang yang menolak pewartaan kita itu bukan pertama-tama menolak kita, melainkan menolak Allah sendiri, menolak karya Allah. Kita tidak perlu kecil hati bila pewartaan kita ditolak, sebab Allah tetap berkarya dari dalam hati mereka dan kita sendiri diselamatkan. Sebaliknya kita tidak perlu sombong. Karena kesombongan itu akkan menyesatkan kita pelan-pelan, yaitu merebut hak Allah tanpa kita sadari. “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam menganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”
Sadarkah kita bahwa jati diri kita itu pewarta firman Allah? Relakah kita digunakan Allah untuk menyampaikan firman-Nya yang akan menyelamatkan itu kepada sesama kita? Dapatkah kita menerima teladan rasul Paulus itu, mengalami kekecewaan, ditolak dsb. Menerimanya dengan ikhlas sebagai kelemahannya, agar kekuatan Kristus semakin nampak ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar