Blogroll

Selasa, 18 Oktober 2011

Melihat dari Sudut Pandang Kekekalan

 
Bila kita menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini hanya sementara dan kita akan memasuki kekekalan, dan bila kita menyadari bahwa kehidupan dalam kekekalan itu jauh lebih berharga daripada kehidupan saat ini yang bersifat sementara, hidup kita akan berubah.
Dari sudut pandang kekekalan, penderitaan fisik di dunia ini menjadi tidak berarti bila dibandingkan dengan penderitaan yang kita alami bila kita berada di neraka. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut terhadap manusia yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tetapi kita harus merasa takut terhadap Allah yang memiliki kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka (12:4-5). Kita juga tidak perlu takut terhadap manusia karena kita berharga di mata Allah dan Allah telah berjanji untuk memelihara kita (12:6-7).
Dari sudut pandang kekekalan, kekayaan tidak bisa diandalkan karena kekayaan bisa hilang dan tidak bisa kita bawa saat kita mati (12:16-21. Yang bisa kita andalkan hanya Allah saja. Kita harus bersandar kepada Allah yang sanggup memelihara kita. Bila kita bersandar kepada kekayaan, kita akan mudah merasa kuatir karena kekayaan tidak bisa memberikan jaminan. Bila kita bersandar kepada pemeliharaan Allah, kita akan terbebas dari rasa kuatir karena Allah telah berjanji untuk memelihara kita.
Dari sudut pandang kekekalan, kita harus senantiasa berjaga-jaga karena kita harus mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan kita saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua ke dunia ini. Bila kita hidup berjaga-jaga (dengan melakukan seluruh tanggung jawab kita), kedatangan Tuhan Yesus akan mendatangkan kebahagiaan. Bila kita tidak berjaga-jaga, kedatangan Tuhan Yesus merupakan malapetaka (12:37-48). 
Lukas 12:43-44
“Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar